Jari-jarimu Akan Dihisab

Jari-jarimu akan dihisab

Jari-jarimu akan dihisab

Jari-jarimu Akan Dihisab – Semua nampak sedang duduk di ruang tamu.  Tak terdengar sedikitpun suara orang bercakap, hanya sesekali terdengar suara tarikan menghela nafas panjang.  Atau suara decak dan bahkan tersenyum simpul sendiri.  Ayah, Fadil dan Nasnin sedang asyik sekali dengan smartphonennya.  Bunda merasa sendirian di ruangan itu.

“Ayah! Dil! Nin!” Seru Bunda mencari perhatian mereka.  Ketika semuanya menoleh, Bunda melanjutkan : “Penyakit yang menimpa masyarakat kita sekarang, ternyata sudah hinggap di keluarga kita ya!”

“Penyakit apa Bunda ?! sambut Nasnin ketus.

“Bunda sudah satu jam lho disini, tapi belum ada satupun yang mengajak Bunda berbicara.  Kalian semua sibuk dengan smartphone kalian semua.  Ayah juga !” kata Bunda dengan nada kesal.

Ayah buru-buru menaruh smartphonennya seraya segera berputar badan menghadap Bunda.

“Maaf Bun, Cuma mengomentari postingan teman !” kata ayah.

“Kalau semua postingan dikomentari butuh waktu berapa jam ?!”

Ayah tidak lagi merespon karena tahu Bunda sedang kesal.  Langkah ayah segera diikuti Fadil dan Nasnin. “Aku Cuma kesal karena temanku menyebarkan berita bohong, berisi fitnah lagi.  Jadi disamping membantah, kukirim juga fakta sebenarnya.  Sekalian memberi dia pelajaran,” Ujar Fadil.

“Khan Ayah yang minta menutup semua saluran televisi, berhenti berlangganan koran.  Alasan ayah karena media sekarang suka menebar berita bohong !”Cetus Ibu.

“Bukan berita bohong, Bunda ! Menurut Ayah media bersikap tidak adil, tidak jujur,”celetuk Nasnin.

“Tidak jujur artinya ya berbohong.  Wartawan itu kan saksi mata dan telinga masyarakat.  Dia harus melaporkan apa yang didengar dan dilihatnya secara apa adanya.  Aktivitas kelompok yang tidak seideologi, jangan sengaja disembunyikan, tidak diekspos,” tutur Bunda bersemangat.

“Kode etik wartawan juga melarang wartawan hanya mengambil bahan informasi yang menguntungkan kepentingannya.  Prinsipnya, kalau musuhmu berbuat baik, beritakan.  Kalau sahabatmu berbuat curang ya beritakan!” kata Ayah.

“Dalam Al Quran disebutkan, jadilah saksi yang adil, meski terhadap orang-orang yang kita cinta.  Janganlah kebencian kita terhadap sesuatau kelompok membuat kita berlaku tidak adil!” kata Nasnin seraya terburu-buru menyambung, “Tapi aku lupa ayatnya!”

Kini semua terdiam.  Fadil tanpa disadari mulai membuka kembali telepon pintarnya, tapi langsung urung begitu melihat wajah serius Bunda.  “Kode etiknya wartawan itu sesungguhnya juga berlaku buat semua orang.  Tak ada orang yang mau dibohongi.  Pembohong saja tidak mau dibohongi.”

“Maksud Bundamu,berhati-hatilah menulis, mengkopi paste, menyebarkan berita, foto atau video.  Kalau tidak yakin akan kebenarannya, simpan untuk diri sendiri atau hapus !” kata Ayah.

“Selain diawasi polisi, jangan lupa, semua tindakan kita, selalu berada dalam pengawasan Malaikat Raqib dann Atid dan semuanya tercatat untuk, kelak diminta pertanggungjawabannya. Dihisab !”

“Kalau begitu pakai nama samarannya aja ya !” kelakar Fadil.