Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan

Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan

Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan

Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan – Bulan Ramadhan di Indonesia sama artinya persaingan antara dua kutub utama.  Masjid sebagai tempat peribadatan dan pasar baik tradisional maupun modern sebagai tempat perbelanjaan.  Dua kutub ini dapat dikatakan bersaing karena sama-sama menyedot massa dalam jumlah yang besar.

Secara Umum, Masjid memenangkan persaingan di periode-periode awal Ramdhan.  Di massa itu gairah menuju masjid untuk beribadah benar-benar meningkat drastis.  Akan tetapi sebaliknya di periode akhir Ramadhan, dapat dilihat bagaimana pasar semakin ramai dan mall sangat padat dikerumuni orang-orang yang sibuk ingin berbelanja.  Memang ada beberapa masjid jauh dari padat di periode akhir, namun umumnya pasar menjadi pemenangnya.  Pertanyaan yang muncul, apa strategi pasar sehingga dapat memenangkan persaingan sengit ini ?  Apakah hanya karena di masjid ini pahalanya tidak nampak ?  Atau karena pasar lebih menggiurkan ?   Jika kita cermati lebih mendalam, Ramadhan di Indonesia, genderang tabuhannya sudah terasa ketika ada iklan beberapa sirup sebelum Bulan Ramadhan tiba.  Perlu diketahui biaya yang harus dikeluarkan untuk iklan satu merk sirup di televisi saja sampai Rp. 230 miliar.  Hal ini harus dilakukan karena merupakan salah satu strategi untuk menyedot branding bahwa salah satu menu berbuka puasa adalah sirup.  Nah…. masuk akal bukan ?

Jamaah Sholat Taraweh (Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan)

Jamaah Sholat Taraweh (Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan)

Baca Juga : Amalan Utama Malam Lailatul Qadar

Jumlah belanja iklan sirup bahkan mengalahkan industri telekomunikasi seperti telkomsel yang hanya Rp. 144 miliar atau XL Axiata yang hanya mencapai Rp. 129 miliar.  Telkomsel lebih menekankan kepada promo Traktir Ramadhan, sedangkan XL Axiata lebih fokus kepada paket data.  Gencarnya industri telekomunikasi beriklan, karena potensi keluarga ketika Ramadhan dan Lebaran untuk dapat saling berkomunikasi cukup tinggi.  Perbandingan jumlah iklan antara industri makanan dan telekomunikasi sebenarnya mencerminkan betapa besarnya mereka mengkampanyekan produknya hanya untuk menghadapi kesempatan selama satu bulan.  Memanfaatkan momentum tepat saat berbuka puasa dipahami sebagai kesempatan besar meraup untung.  Padahal dana yang tercantum baru di satu media saja.  Belum tercantum di media cetak offline dan lain sebagainya.

Paket Kegiatan Masjid Ala Iklan

Shalat Taraweh di Makkah (Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan)

Shalat Taraweh di Makkah (Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan)

Bagaimana dengan promosi menghadapi Ramadhan di masjid-masjid ?  Salah satu gambaran semaraknya Ramadhan di salah satu Masjid, setiap waktu shalat di masjid tersebut selalu semarak hingga akhir Ramadhan usai.  Untuk berbuka puasa saja, Masjid ini setiap harinya menyediakan 1000 porsi lebih makanan untuk takjil.  Yang pada hari-hari biasa, masjid ini jumlah jamaahnya hanya sekitar 600 an orang saja.   Artinya animo masyarakat khususnya kaum muslimin melebihi kapasitas, hampir dua kali lipatnya jika saat Bulan Ramadhan.  Tarawih di Masjid ini juga ada paketnya, seperti paket telepon.  Ada taraweh ala Gaza yang 4 hari pertama Ramadhan bekerja sama dengan masjid yang lain untuk mendatangkan Syeikh dari Palestina.  Jadi serasa seperti sedang shalat Tarawih di Gaza.

Baca Juga : Tips dan Trik Berdoa di Bulan Ramadhan

Tidak hanya itu.  Ada juga taraweh ala Madinah.  Kali ini bukan berarti syeikhnya berasal dari Madinah, akan tetapi bacaan imamnya bagus, dengan jumlah bacaan satu malam satu juz.  Sehingga shalat taraweh serasa seperti di Madinah.  Iktikaf juga ada paketnya, sepuluh malam terakhir disediakan tempat bermalam.  Ada menu sahur, berbuka dan ustadz-ustadz yang mengisi kajiananya yang bagus.  Sore hari menjelang berbuka, lagi-lagi ada paketannya juga.  Jika ada masjid yang menyukai ustadz dengan gaya tertentu, di masjid ini justru disediakan menu lesehan sore.  Menu pertama es Doger, yang artinya semua suka dongeng Geeer.  Menu ini berisi pendongeng anak-anak yang lucu dan bermakna.  Menu selanjutnya Kolag, kajian obrolan dan lagu.  Yang hadir adalah tim nasyid dan musisi islami.  Ada juga menu Kicak, Kajian Kocak dengan menghadirkan ustadz-ustadz yang lucu dan menggelitik perut dalam penyampaiannya.  Anda cukup memilih saja.  Dan ternyata hasilnya WOW, Yang hadir mengalahkan mall, sebelum subuhpun sudah ramai.

Mall (Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan)

Mall (Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan)

Artinya, apa yang diusahakan oleh pasar dan masjid dalam mengkampanyekan momen Ramadhan akan sebanding dengan hasil.  Persoalannya adalah, ketika masjid tidak mengkampanyekan Ramadhan, atau memiliki pelayanan buruk.  Jadwal Imamnya sudah ada, tetapi imamnya tidak hadir.  Magrib mampir, hanya tersedia air putih.  Pertanyaannya, bagaimana orang tertarik untuk berkunjung ke Masjid ?

Apa Strategi Masjid ?

Puncak persaingan adalah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.  Di masa ini harga-harga kebutuhan primer ataupun sekunder sebenarnya naik.  Ini bisa dibuktikan di pasar yang ada, pedagang yang biasanya di hari biasa baju dijual seharga Rp. 150 ribu, saat Bulan ramadhan seperti ini dijual seharga Rp. 200 ribu, ya… tetap laku keras laris manis….  Perlu diingat pula Tunjangan Hari Raya (THR) juga menambah pundi-pundi pendapatan masyarakat.  Logikanya, masjid harusnya menang karena pundi-pundi amal di masjid tidak semahal di pasar.  Sebagai contoh harga satu baju Rp. 150 ribu, padahal untuk infak takjil di masjid dengan jumlah uang yang sama bisa mendapatkan 10 porsi makanan.  Tapi agresivitas pasar terkadang dapat membalikkan keadaan.

Baca Juga : Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Naif rasanya ketika masjid tidak ramai hanya menyalahkan jamaah yang beralih ke pasar.  Tapi tidak pernah bertanya daya tarik apa yang sudah ditanamkan di masjid agar mampu mengalahkan pasar.  Kalau hanya untuk persoalan dunia diiklankan habis-habisan, kenapa yang untuk akhirat diiklankan setengah-setengah atau bahkan tidak sama sekali ?  Kita harus menaruh hormat kepada para pendiri negeri ini yang meletakkan masjid selalu bersebelahan dengan alun-alun dan pusat pemerintahan.  Mereka menghendaki masjid sebagai pusat kegiatan bangsa Indonesia.  Tinggal kita meneruskan agar menjadi jauh lebih baik dan menarik dari pasar.  Semoga artikel Pasar Vs Masjid di Bulan Ramadhan kali ini seperti uraian di atas bermanfaat dan menjadi bahan renungan bagi kita.